075879500_1450354905-header_imtiyazrohmah.co_id

Masjidil Haram Masjid Yang Suci dan Paling Agung

Masjidil Haram berarti masjid yang suci, masjid yang paling agung bagi umat Islam, terletak di pusat kota Mekkah. Masjid pertama di muka bumi ini dibangun oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Isma’il -‘alaihimassalam- untuk tempat ibadah kepada Allah Ta’ala. Di dalamnya terdapat Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam.

Seputar Masjidil Haram Masjid Yang Suci dan Paling Agung

Dinamakan Al-Masjidul-Haram karena kesuciannya dan diharamkan pertumpahan darah di dalamnya.

Luas Masjidil Haram ± 356.000 m², terdiri dari 3 lantai dan  9 menara dengan ketinggian 89 m, dapat menampung sampai 730.000 jamaah dalam satu waktu shalat berjamaah pada hari biasa dan lebih dari 1 juta jamaah pada musim haji. Pada saat ini dilakukan perluasan Masjid yang luasnya akan mencapai ± 750,000 m² dengan daya tampung lebih dari 2 juta jamaah.

Masjid ini adalah rumah ibadah yang paling utama dan pertama kali dibangun untuk manusia. Allah berfirman, ” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk [tempat beribadah] manusia, ialah Baitullah yang berada di Bakkah [Mekkah] yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” [QS. Al Baqarah: 96].

Ibadah dan shalat di Masjidil Haram lebih utama dibandingkan ibadah ditempat lainnya, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di tempat lainnya.” [HR. Ahmad, shahih].

Masjid ini termasuk dari tiga tempat yang disyariatkan untuk mempersiapkan perjalanan kepadanya, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Tidak boleh melakukan perjalanan jauh [dengan tujuan shalat] kecuali pada tiga masjid;  Masjidil Haram, Masjidku ini [Masjid Nabawi], dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaq ‘alaihi].

Sebagaimana masjid lainnya, ketika seseorang memasuki masjid termulia ini disunnahkan untuk shalat tahiyyatul masjid kecuali jika ingin melakukan thawaf.

Ka’bah merupakan kiblat umat Islam dalam menjalankan ibadah shalat, di manapun umat Islam berada maka ia menghadapkan wajahnya ke arah Ka’bah. Ini adalah simbol persatuan umat Islam, seyogyanya hati mereka senantiasa bersatu, tidak bercerai-berai sebagaimana arah shalat mereka juga satu.

Inilah beberapa bagian penting dari Masjidil Haram

KA’BAH

Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram. Dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Isma’il -‘alaihimassalam-. Setelah selesai Nabi Ibrahim -‘alaihissalam- menyeru kepada seluruh manusia untuk melakukan haji ke tempat ini.

Ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berumur 35 tahun, banjir besar melanda Mekkah dan merobohkan beberapa bagian Ka’bah. Kaum Quraisy sepakat untuk memugarnya. Karena biaya yang halal untuk proyek ini tidak mencukupi, maka disisakan sekitar 6-7 hasta yang selanjutnya dikenal dengan sebutan al-Hijr.

Abdullah bin Zubair di masa khilafahnya mengembalikan bangunan ka’bah seperti bangunan Ibrahim, dan membungkusnya dengan kain kiswah. Ketika kekhalifahan beliau runtuh, Hajjaj AtsTsaqafi -atas perintah Khalifah Marwan- mengembalikan bangunan Ka’bah seperti bangunan Quraisy hingga saat ini.

Ka’bah memiliki 4 rukun [sudut]: rukun Hajar Aswad, Yamani, Syam, dan Iraq. Di sebelah timurnya terdapat maqam Ibrahim. Tinggi Ka’bah sekitar 15 m, dan panjang dindingnya 10 m dan 12 m. Pintunya satu di dekat hajar aswad, dibuka 3 kali setahun untuk dibersihkan dengan air zam-zam. Di dinding atas sebelah utara terdapat pipa/talang berlapis emas yang berfungsi untuk mengalirkan air di atapnya, disebut Mizab. Isi Ka’bah adalah ruangan kosong, atapnya disangga dengan 3 tiang kayu yang dilapisi emas.

 

Pelajaran Hikmah Seputar Ka’bah Masjidil Haram

Ka’bah merupakan kiblat seluruh umat Islam. Simbol tauhid [pengesaan Allah] dan persatuan umat.

Di antara ibadah terkait rumah suci ini adalah shalat di dalamnya dan thawaf di sekelilingnya. Thawaf merupakan amalan yang sangat utama dan salah satu rukun dalam ibadah haji dan umrah, disunnahkan memperbanyak doa dan dzikir di dalamnya.

Tidak dianjurkan mengusap-ngusap dinding Ka’bah dengan tujuan tabarruk [mengambil berkah] karena tidak pernah dianjurkan dan juga tidak dilakukan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

RUKUN YAMANI

Rukun Yamani adalah sudut Ka’bah bagian barat daya yang tempatnya sebelum tempat hajar Aswad dari arah thawaf.

Dinamakan Rukun Yamani karena posisinya berada di arah negara Yaman [wilayah selatan Mekkah].

Sudut ini termasuk sudut yang tersisa dari sudut-sudut Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim -‘alahissalam-. Berbeda dengan dua tiang lainnya, yaitu sudut sebelah utara, keduanya dirobohkan oleh Quraisy saat pemugaran Ka’bah karena kekurangan biaya halal dalam pembangunannya.

Pelajaran Hikmah Seputar Rukun Yamani Ka’bah Masjidil Haram

Mengusap Rukun Yamani merupakan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan memiliki keutamaan yang agung. Ubaid bin Umair berkata kepada Ibnu Umar, “Sesungguhnya menyentuh keduanya [Rukun Yamani dan Hajar Aswad] dapat menghapuskan dosa-dosa.” [HR. Tirmidzi dan Ahmad, shahih].

Cara mengusapnya, cukup menyentuhnya dengan tangan tanpa mengusap-usapnya berkali-kali.

Disunnahkan bagi orang yang berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad saat thawaf untuk membaca doa, “Rabbana aatina fiddunya hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaabannaar.” [Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari adzab neraka].

Tidak disyariatkan untuk mencium Rukun Yamani, atau mengarahkan isyarat tangan padanya, tidak pula mengusap wajah dengan kedua tangan seusai mengusapnya.

Memakai nama negara tetangga untuk tempat-tempat suci memberi kesan tersendiri bagi penduduknya. Hal ini mengingatkan kita tentang ajaran Islam dalam bertetangga, ternyata tidak hanya dalam ranah pribadi, namun meluas hingga ranah kehidupan bernegara.

HAJAR ASWAD

Hajar Aswad dalam bahasa Arab berarti batu hitam, yaitu sebuah batu berukuran 1 hasta yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim di Ka’bah. Batu ini dibawa oleh Malaikat Jibril dari langit. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Hajar Aswad diturunkan dari surga, warnanya lebih putih dari susu, namun dihitamkan oleh dosa-dosa bani Adam.” [HR. Tirmidzi, hasan shahih].

Pada tahun 317 H, sekte Syiah kebatinan Qaramithah membantai puluhan ribu jamaah haji dan mencuri Hajar Aswad dari Masjidil Haram. Namun Khalifah Al Muthi’ Billah berhasil mengembalikannya pada tahun 339 H.

Saat ini Hajar Aswad diikat dengan lempengan perak agar tidak retak,dan diletakkan di dinding luar sebelah tenggara Ka’bah dengan ketinggian 1,5 m dari lantai, sehingga mudah dicium.

Pelajaran Hikmah Seputar Rukun Hajar Aswad Ka’bah Masjidil Haram

Hajar Aswad merupakan tempat untuk mengawali thawaf dan mengakhirinya. Disunnahkan untuk mencium batu ini ketika thawaf, jika tidak mampu maka dengan mengusapnya -lalu mencium tangan-, dan jika tidak bisa maka cukup memberikan isyarat padanya dengan mengangkat tangan sambil membaca, “Allaahu akbar”.

Tidak dianjurkan untuk berdesak-desakkan demi mencium hajar aswad, karena dapat membahayakan keselamatan diri dan orang lain. Tidak dianjurkan pula melakukan tabarruk [mencari keberkahan] dengan hajar aswad, karena ia hanyalah sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan mudharat.

Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- pernah mencium Hajar Aswad dan berkata, “Demi Allah, aku akan menciummu, aku tahu bahwa engkau adalah batu, dan engkau tidak memberi madharat dan manfaat, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu maka aku tak akan menciummu.” [HR. Muslim].

Dosa memang seperti noda hitam yang mengotori hati, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Jika seorang hamba berbuat satu dosa maka tertitik di hatinya satu noktah hitam, jika ia menyudahinya lalu beristighfar dan bertaubat, maka diseka kembali hatinya, namun jika ia kembali melakukannya, maka akan ditambah noktahnya sampai menutupi hatinya. Itulah ‘Ran’/tutup yang disebut oleh Allah “Tidak! Tetapi telah menutupi hati mereka [orang kafir] apa yang mereka perbuat” [al-Muthaffifin: 14] [HR. Tirmizi, hasan].