hajar-aswad

Hajar Aswad, Rasulullah pun Menciumnya

Hajar Aswad adalah batu yang ditempelkan di sudut sebelah timur Ka’bah. Setiap orang harus memulai thawaf dari tempat Hajar Aswad ini. Ia termasuk ayat-ayat atau tanda-tanda nyata yang ada di dalam tanah Haram yang sangat aman itu. Sedangkan tentang kedudukan, adab-adab, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan Hajar Aswad, akan kami jelaskan dalam beberapa pembahasan dibawah ini.

Hajar Aswad adalah batu dari Surga

Banyak sekali dalil syar’i yang menyebutkan bahwa Hajar Aswad adalah batu Surga. Sebelumnya warna Hajar Aswad lebih putih dari pada susu, tetapi ia dihitamkan oleh dosa-dosa yang diperbuat Bani Adam. Dalil-dalil yang menyatakan hal tersebut adalah:

Hadis riwayat Imam An-Nasai dalam Sunan-nya dari Abdullah bin Abbas dari Nabi. Beliau bersabda:

“Hajar Aswad berasal dari Surga.”

            Dan riwayat Imam At-Tirmidzi dalam sunan-nya dari Abdullah bin Abbas dengan lafazh yang berbunyi:

“Hajar Aswad ini turun dari Surga. Dulu, warnanya lebih putih daripada susu, kemudian dihitamkan oleh dosa-dosa Bani Adam.”

            Mari kita perhatikan! Jika dampak dosa dan maksiat terhadap benda padat adalah seperti diatas, maka bagaimanakah dampaknya dalam hati para manusia? Waallahul musta’an.

Hajar Aswad: batu yang dicium, diusap dan kita bersujud di atasnya

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita tentang cara yang disyariatkan dalam mengagungkan Hajar Aswad. Maka barangsiapa berthawaf di sekeliling Ka’bah, ia harus memulai thawaf itu dari Hajar Aswad. Kemudian, disunnahkan pula baginya mencium Hajar Aswad itu, jika memungkinkan untuk dilakukan. Jika tidak mampu, ia bisa menyentuh dengan tangan, kemudian mengusapnya dan mencium tangan yang mengusap tadi. Atau, menyentuhnya dengan tongkat dan mencium bagian tongkat yang menyentuh itu.

Jika tidak mampu mencium dan mengusap, atau khawatir menyakiti orang lain, maka cukuplah ia memberi isyarat dan bertakbir bersamaan dengan itu semua.

Salah satu dalil yang menyebutkan ketentuan-ketentuan diatas adalah Hadis riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya,

“Dari Az-Zubair bin Arabi, dia berkata bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang menyentuh Hajar Aswad. Maka Allahlah menjawab: ‘Saya melihat Rasulullah mengusap dan menciumnya…”

            Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim:

“Nafi berkata: ‘Aku melihat Abdullah bin Umar mengusap Hajar Aswad dengan tangan, kemudian mencium tangan itu. Lalu ia berkata: ‘Aku tidak pernah meninggalkan hal ini semenjak melihat Rasulullah melakukannya.”

            Juga Hadis riwayat Imam Muslim dari Hadis Abu Ath-Thufail. Ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah thawaf di sekeliling Al-Bait (Ka’bah). Beliau mengusap Hajar Aswad dengan tongkat, kemudian mencium tongkat itu.”

            Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas. Ia berkata:

“Nabi mengerjakan thawaf di sekeliling Ka’bah sambil menaiki unta. Setiap beliau sampai pada Hajar Aswad, beliau memberi isyarat kepadanya dengan sesuatu yang beliau bawa, kemudian bertakbir.”

            Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah bahwa ia berkata:

“Aku melihat Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad dan selalu melakukannya. Dia berkata kepada Hajar Aswad itu,’Aku melihat Rasulullah sangat memperhatikanmu.”

            Dan dalam shahih Ibnu Khuzaimah dai Ja’far bin Abdullah berkata:

“Aku melihat Muhammad bin Abdul bin Ja’far mencium Hajar Aswad dan bersujud diatasnya. Kemudian dia berkata: ‘Aku melihat pamanmu, yaitu Abdullah bin Abbas menciumnya dan bersujud diatasnya. Ibnu Abbas berkata: ‘Aku melihat Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad dan bersujud diatasnya.’ Kemudian Umar berkata, ‘Aku melihat Rasulullah melakukan seperti ini, maka aku melakukannya pula.”

            Imam Ibnu Khuzaimah menamai Hadis ini dengan bab: “Bersujud diatas Hajar Aswad jika seorang yang berthawaf bisa melakukan itu tanpa menyakiti kaum muslimin.”

Jadi, mencium Hajar Aswad, mengusap, dan bersujud kepada Allah diatas Hajar Aswad adalah sunnah dan disyariatkan, serta sangat dianjurkan oleh agama. Dalam hal ini terdapat pahala dan balasan yang sangat besar. Sedangkan pelakunya melakukan hal itu semata-mata karena meniru Nabi Muhammad dan mengharap pahala melimpah yang dijanjikan atasnya. Bukan karena meyakini bahwa Hajar Aswad bisa memberikan mudharat atau manfaat, seperti yang dilakukan sebagian orang yang tidak mengerti ajaran Islam.

Kisah ‘Umar ibnul Khoththob rodhiAllahu ‘anhu Mencium Hajar Aswad Tatkala Thowaf.

Dalam kitab Shohih Al Bukhori pada hadits no.1597 pada Kitab Tentang Haji :

Telah berkata kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrohim dari ‘Abbas bin Robi’ah dari ‘Umar rodhiAllahu ‘anhu bahwasanya tatkala ‘Umar mendatangi Hajar Aswad kemudian menciumnya, maka ‘Umar rodhiAllahu ‘anhu berkata :

“Sungguh aku mengetahui bahwasanya kamu benar-benar hanyalah sebuah batu yang tidak memberikan mudhorot dan juga tidak memberikan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mencium kamu, maka aku tidak mau untuk mencium kamu.”

Hadits semisal ini juga disebutkan dalam Shohih Muslim pada hadits no.1270. Sehingga, derajat hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih (yakni disepakati keshohihannya oleh Al Bukhori dan Muslim rohimahumallah).

Jika demikian, tentunya benda mati lain yang lebih rendah kedudukannya daripada hajar aswad yang merupakan batu dari surga dan saat ini terpasang di sudut Ka’bah sebagai qiblat umat Islam, maka tentunya lebih tidak akan bisa memberikan kemanfaatan maupun kemudhorotan sedikit pun. Misalnya : keris, cincin, batu akik, jimat-jimat, rajah-rajah, tanah Karbala, kuburan orang mati, dan lainnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat ke-6 Al An’am ayat 50 :

قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِى خَزَآٮِٕنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّى مَلَكٌۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّۚ

قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad) : “Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak [pula] aku mengetahui hal yang gho’ib dan tidak [pula] aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat.  Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kalian tidak memikirkannya ?

Surat ke-72 Al Jinn ayat 21-23 :

قُلۡ إِنِّى لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرًّ۬ا وَلَا رَشَدً۬ا

قُلۡ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌ۬ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا

إِلَّا بَلَـٰغً۬ا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَـٰلَـٰتِهِۦۚ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَإِنَّ لَهُ ۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudhorotan pun kepada kalian dan tidak [pula] sesuatu kemanfa’atan”. (21) Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari [‘adzab] Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. (22) Akan tetapi [aku hanya] menyampaikan [peringatan] dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (23)

Jika seorang sosok Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala saja tidak pula mampu mendatangkan manfaat maupun mudhorot dan tidak pula mengetahui perkara ghoib, maka tentunya manusia lain yang kedudukannya di bawah Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam pun tentunya lebih tidak mampu lagi mendatangkan manfaat atau mudhorot dan tidak pula mengetahui perkara ghoib sedikitpun. Tidak pula bagi seorang wali quthub/aqthob, wali aimmah, wali nuqoba’, wali rojabiyyun, wali khatam, ataupun

Maka dari itu, sebagai seorang Muslim dan Muslimah hendaknya kita hanya meminta kemanfaatan atau perlindungan dari mudhorot hanya kepada Allah Ta’ala semata. Berdo’alah secara langsung hanya kepada Allah Ta’ala semata dikarenakan Dia telah memerintahkan hamba-Nya demikian sebagaimana dalam surat ke-40 Al Mu’min (disebut juga surat Al Ghofir) ayat 60 :

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Robb kalian telah berfirman : “Berdo’a lah kalian kepada-Ku maka niscaya Aku kabulkan bagi kalian!” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (yakni bahwa do’a termasuk salah satu bentuk ibadah), maka kelak mereka akan memasuki neraka Jahannam dalam kondisi terhina.

Dari hadits tersebut pula hendaknya kita lebih mengedepankan ittiba’ur rosul (mengikuti tuntunan Rosulullah shollalalhu ‘alaihi wa sallam) meskipun terkadang akal dan hati kita belum bisa mencerna hal tersebut. Selama suatu perkara ibadah itu telah dituntunkan secara shohih dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka berusahalah untuk mengikutinya semaksimal kemampuan kita. Dan demikian pula sebaliknya, jika suatu perkara ibadah itu tidak ada tuntunannya dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah kita lakukan meskipun hal itu sesuai dengan akal atau hati kita dan meskipun hal itu sudah marak di sekeliling kita.